Worst weakness Millennial According CIA Boss: No Can Trust!

LoadingSUDAH MENCOBA

 

Banyak istilah, bahkan yang bernada tudingan, sudah dilekatkan pada generasi Millenial. Gen X salah satunya. Tapi, yang jauh lebih banyak, justru dihubungkan dengan karakter negatif. Kata Millenial menjadi epitet untuk egois, terobsesi pada diri, pencinta selfie, dan selalu mengeluh. Masih bakal ada lagi, istilah lain yang akan muncul berikutnya.

Termasuk yang datang dari mantan Direktur CIA Michael Hayden. Menurutnya, satu hal terburuk dengan generasi Millenial, adalah mereka tidak bisa dipercaya. Hayden menyebutnya, saat wawancara dengan BBC, dan ditanya tentang kasus-kasus bocornya informasi dari CIA, serta badan intelijen Amerika Serikat lain termasuk NSA.

Berbicara tentang kegiatan mata-mata digital, Hayden menyebut Millenial adalah generasi yang khusus. Mereka tahu lebih banyak tentang peretasan komputer, jauh lebih baik dari generasi sebelumnya. Millenial dianggap generasi aneh, yang sangat menikmati hackathon, istilah yang muncul dengan menggabungkan kata hacking dan marathon.

Bukan orangtua lagi yang menjadi role model

Hackhaton merujuk pada kegiatan sekelompok ahli pemrograman komputer, yang berkumpul dan bersama-sama membuat aplikasi dalam kurun waktu cepat, biasanya kurang dari sepekan. Namun, kerap digunakan untuk menggambarkan aktivitas negatif, para peretas yang hanya ingin membobol situs, tanpa berpikir panjang saat menuliskan ribuan baris kode.

“Ini generasi yang role model terbesarnya, bukan orangtua mereka, tapi humanoid terkenal Mark Zuckerberg,” kata Chris Matyszczyk, dalam artikelnya untuk Inc. Untuk tuduhan tak bisa dipercaya, Hayden menggunakan kasus Edward Snowden dan Chelsea Manning sebagai rujukan untuk Millenial. Mereka yang hanya suka membocorkan, tanpa ada memikirkan akibat dan tanggung jawab.

Pemahaman yang berbeda tentang kesetiaan, rahasia, dan transparansi

Hayden mengaku tak bermaksud menghakimi. “Tapi, grup Millenial ini, dan grup lain yang terkait, memiliki pemahaman berbeda tentang kata kesetiaan, rahasia, dan transparansi, dari yang dipahami generasi saya. Jadi, kami merekrut orang-orang ini ke CIA. Saya hanya bisa berasumsi, namun sekali lagi, secara kultural mereka memiliki insting berbeda, dari pada orang yang membuat keputusan merekrut mereka,” ujar Hayden.

Matyszczyk dalam artikelnya, menyebut orang-orang seperti Zuckerberg, merasa tahu lebih baik tentang dunia yang lebih baik. Generasi Millenial merasa privasi bukan lagi normal sosial. “Hanya karena CEO Facebook secara arogan mengatakan begitu,” tulis Matyszczyk. “Anehnya, mereka mengaku jauh lebih peduli dengan privasi, ketimbang generasi yang lebih tua.”

“Kehadiran teknologi telah membuat manusia, menjadi spesies yang lebih bingung dan menginkubasi diri, lebih dari sebelumnya. Prinsip-prinsip kita lebih fleksibel, dan insting kita lebih tak terkendali. Lebih buruk dalam memahami, atau bahkan berpikir tentang konsekuensi, dan itu terpapar ke semua generasi,” katanya.

LoadingSUDAH MENCOBA