Cacing Laut Purba Sebesar Lengan untuk Pertama Kalinya Diteliti, Hasilnya…

LoadingSUDAH MENCOBA

Apa yang kamu bayangkan tentang cacing laut? Mungkin bagi kamu hewan yang satu ini terlihat menjijikan. Bagaimana bila ada cacing laut berukuran sebesar lengan? Cacing laut tersebut benar-benar ada!

Beberapa waktu yang lalu, para peneliti menemukan cacing laut berukuran raksasa dari jenis Kuphus, sejenis cacing kapal yang biasanya menggerogoti kayu lapuk di lautan. Sering dikenal sebagai hama lautan karena memakan kayu kapal, banyak yang tidak tahu bahwa ada spesies cacing kapal terbesar dan terlangka dengan nama latin Kuphus polythalamia.

pnas.org

Cacing kapal yang ditemukan di perairan Filipina ini memiliki panjang rata-rata sekitar 1.000 mm dan berbentuk menyerupai tongkat baseball. Bisa dibilang, Kuphus merupakan jenis cacing laut yang sangat langka bahkan dianggap sebagai bagian dari mitos, layaknya seekor unicorn.

Di abad ke 18, para peneliti hanya menemukan cangkangnya saja yang berukuran sebesar gading gajah. Hal ini pun menimbulkan asumsi bahwa hewan laut ini benar-benar ada pada zaman dahulu. Tak ada yang tahu bahwa hewan ini benar-benar ada hingga saat ini.

Baca Nanti  Pie Susu Bali Sebenarnya Bukan Berasal dari Bali Lho! Darimana Asalnya?

Daniel Distel dari Ocean Genome Legacy Center di Northeastern University, Boston, dan rekan-rekannya adalah yang pertama kali mengetahui lokasi potensial keberadaan cacing laut ini. Di tahun 2010, salah seorang kolaborator menunjukkan video dari salah satu stasiun televisi Filipina yang menunjukkan seseorang sedang makan hewan tersebut dimana saat itu dianggap memiliki khasiat pengobatan tertentu.

Diteliti untuk pertama kalinya

video by: pnas.org

Distel pun membawa hewan dengan nama lokal tamilok ini ke University of Utah untuk diteliti lebih lanjut bersama ahli kimia, Margo Haygood.

pnas.org

Haygood pun mengetahui bahwa hewan ini memiliki mulut yang tertutup, dengan kata lain hewan ini tidak makan. Lalu bagaimana mereka memenuhi kebutuhan nutrisi dalam tubuhnya?

Baca Nanti  Tidak Cuma Memeriahkan Suasana, Tapi Juga Sehat! Ini Dia 5 Manfaat Tepuk Tangan bagi Tubuh Kamu

Dugaan Haygood yang sudah ahli dalam bidang mikrobiologi kelautan adalah bakteri. Menurutnya, bakteri yang tinggal dalam cacing kapal raksasa ini mengubah hidrogen sulfida menjadi karbon sehingga dapat jadi suplai makanan untuk hewan tersebut.

Hal tersebut juga didukung dengan fakta bahwa semua spesies cacing kapal memiliki hubungan simbiosis mutualisme dengan bakteri yang hidup di dalam organ khusus di insang mereka untuk memecah selulosa pada kayu.

Selain itu, lautan dalam yang jadi habitat Kuphus memiliki kadar oksigen cukup rendah, sehingga banyak mikroba yang justru bernapas menggunakan sulfur, yang mana sangat melimpah di lokasi adaptasi mereka.

Dan benar saja, ketika Haygood dan rekan-rekan membedah spesimen Kuphus, mereka menemukan spesies mikroba yang bernapas dengan sulfur bernama Teredinibacter turnerae. Bakteri tersebut hidup di insang mereka.

Baca Nanti  Tembakau Gorila, Sensasi "Ditindih" Gorila Lewat Isapan Tembakau

Menariknya lagi, organ pencernaan Kuphus menyusut sehingga mereka tak perlu lagi mencerna makanan. Dengan kata lain, Kuphus tidak perlu makan untuk bisa hidup. Mencengangkan!

 

Gambar fitur oleh: Marvin Altamia

ARTIKEL TERKAIT

Beginilah Evolusi Manusia 200 Ribu Tahun Lagi: Aneh dan Lemah! Bila mengacu pada teori terkenal Charles Darwin, setiap makhluk hidup mengalami evolusi seiring berjalannya waktu dan mungkin butuh ratusan ribu tahun...
LoadingSUDAH MENCOBA