5 Fakta Mencengangkan Tentang Serangan Kamikaze, Pasukan Bunuh Diri Jepang di Masa Perang Dunia II

on
LoadingSUDAH MENCOBA

Di masa Perang Dunia II, Pasukan Militer Jepang memiliki taktik perang andalan yang paling ditakuti, Kamikaze. Serangan ini merupakan serangan bunuh diri yang melibatkan pesawat dan pilot tempurnya. Pilot sengaja menabrakkan pesawat yang dikendalikannya ke arah kapal musuh sehingga hancur berkeping-keping. Serangan ini efektif menenggelamkan kapal musuh dan membawa kemenangan besar bagi Jepang.

Hingga saat ini, banyak orang yang menduga bahwa pasukan kamikaze tidak lain adalah mereka yang fanatik dengan Jepang, telah dicuci otak sehingga mau mengorbankan jiwanya. Namun fakta dibalik itu justru mencengangkan. Para pilot tidak lain adalah manusia biasa yang sering kali mengalami pergolakan batin antara kesetiaan pada negara dan ketakutan mereka akan kematian.

Berikut adalah beberapa fakta menarik yang patut kamu simak mengenai serangan bunuh diri kamikaze andalan militer Jepang di Perang Dunia II ini.

Serangan Kamikaze pertama tidak direncanakan

Saat Jepang menyerang pangkalan militer Amerika Serikat, Pearl Harbour, pada tanggal 7 Desember 1941, Letnan Fusata Iida yang kala itu berusia 28 tahun terkena tembakan. Pesawatnya yang berjenis Mitsubishi A6M5 Zero mengalami kerusakan parah sehingga ia meminta agar rekan pasukan yang lain pergi meninggalkannya. Iida kemudian mengarahkan pesawatnya ke daratan. Ia menarget Hangar 101, hangar utama Pearl Harbour, dimana memang bertujuan untuk menabrakkan diri. Pasukan Amerika kemudian menembaki pesawat tersebut hingga berkeping-keping. Alih-alih menabrak hangar, pesawat tersebut hancur dan jatuh jauh dari targetnya.

Meskipun memang tidak berencana melakukannya, namun Fusata Iida dianggap sebagai orang pertama yang melakukan Kamikaze. Mayatnya kemudian dikuburkan oleh Pasukan Amerika di Heleloa dan saat ini telah didirikan monumen di area jatuhnya pesawat sebagai dedikasi untuk pasukan musuh. Jasadnya kemudian dikembalikan ke Jepang.

Ide serangan kamikaze baru muncul tiga tahun kemudian

Serangan udara dan laut dari Pasukan Jepang gagal mengalahkan serangan balasan Pasukan Amerika setelah kejadian Pearl Harbour. Dalam kondisi terdesak ini, Angkatan Laut Jepang, Kapten Motoharu Okamura, percaya bahwa dengan menabrakkan pesawat langsung ke kapal lawan akan efektif membalikkan keadaan. Okamura bahkan yakin ada banyak relawan yang mengambil kesempatan ini untuk menyelamatkan negara.

Gelombang pertama Kamikaze didirikan dengan 24 pilot relawan. Mereka menargetkan kapal pembawa pesawat. Serangan tersebut terbukti efektif. Salah satunya, Kapal St. Lo, bahkan tenggelam kurang dari 1 jam dan menewaskan 100 orang.

Perang Okinawa adalah yang paling memakan korban

kamikaze

Perang Okinawa melibatkan 287.000 tentara Amerika dan 130.000 tentara Jepang. Perang ini menewaskan lebih dari 90.000 tentara dari kedua belah kubu, serta 100.000 korban jiwa dari penduduk sipil. Kamikaze sendiri mencatatkan rekor kerusakan terbesar yang pernah diterima Angkatan Laut Amerika Serikat dalam sekali perang, dengan korban hampir 5.000 orang. Serangan tersebut berhasil menenggelamkan 34 kapal dan merusak ratusan lainnya sepanjang perang ini.

Para pasukan berani mati dikunjungi langsung oleh sang kaisar

Para pilot kamikaze tidak terlalu berpikir banyak mengenai bagaimana mereka mati. Masing-masing orang dilatih untuk menekan emosi mereka. Bahkan ketika mereka akan mati, mereka tahu kematian mereka benar-benar berharga. Tugas utama mereka adalah mati. Bila mereka mundur dari perang, maka atasan mereka akan marah.

Menariknya, setelah lulus dari sekolah militer, Kaisar Showa kala itu, Kaisar Hirohito, mengunjungi para lulusan sebagai tanda bahwa sang kaisar meminta bantuan secara personal dari mereka. Bagi pasukan kamikaze, tentu saja tidak ada pilihan lain kecuali mati untuk sang kaisar.

Masing-masing pilot dipersilahkan untuk menulis surat bagi keluarga mereka

Semua pilot kamikaze diberikan kesempatan untuk menulis surat wasiat kepada para keluarganya yang akan dikirimkan setelah mereka meninggal dunia. Salah satu surat yang dituliskan datang dari Adachi Takuya, yang kala itu berusia 23 tahun. Surat tertanggal 28 April 1945 itu berisi:

Ayah dan Ibu yang Terhormat,

Sulitnya perjalanan bagi kalian untuk melihat saya terlihat jelas dari rambut yang acak-acakan serta cekungan di bawah mata kalian. Itu membuat saya ingin menekuk lutut dan bersimpuh di hadapan kalian. Kerutan di alis kalian merupakan saksi dari rasa sakit yang kalian hadapi selama membesarkan saya. Kata-kata tentu saja tidak dapat mengungkapkan perasaan saya saat ini dan apa yang saya katakan sangatlah dangkal. Namun, meski saya menyadari bahwa waktu yang kita miliki begitu singkat, saya melihat ada banyak hal yang ingin kalian sampaikan yang terlihat di mata dan pandangan itu.

Saat kalian mengambil tangan saya dan menggenggamnya di antara jari-jari yang beku itu, saya merasakan kedamaian yang tak pernah saya temukan sejak bergabung di militer – seperti kembali menjadi bayi dan haus akan kehangatan cinta ibu. Itu semua karena saya tenggelam dalam keindahan pengabdian kalian bahwa saya boleh menjadi martir untuk diri saya sendiri – karena dalam kematian, saya akan tidur di dunia cinta kalian. Berlinang air mata saya ketika mengingat sushi yang kalian buat dengan penuh cinta dan kasih sayang, seperti menyuapkan cinta di bibir saya. Meskipun saya makan sedikit, itu merupakan makanan terenak yang di kehidupan saya.

Ibu yang terhormat, bahkan jika saya tidak pernah bisa sepenuhnya menerima cinta yang Anda berikan, saya menerima begitu banyak kebijaksanaan dari Anda. Dan Ayah, kata-kata sunyi Anda terukir dalam-dalam ke hati saya. Dengan ini saya bisa berperang bersama kalian berdua. Bahkan jika saya harus mati, saya akan melakukannya dengan jiwa yang damai.

Saya benar-benar tulus melakukannya.

Zona perang adalah tempat dimana emosi yang indah akan diuji. Bila kematian berarti kembali ke dunia yang penuh cinta, maka tidak ada hal yang perlu saya takuti. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali maju dan menjalankan tugas saya.

Pada jam 16.00, saat pertemuan kita usai. Melihat kalian berjalan ke luar gerbang, saya diam-diam melambaikan tangan selamat tinggal.

 

Melihat fakta ini, mungkin membuat kamu terenyuh dengan para pasukan kamikaze. Tapi yang jelas, itulah perang. Tak ada damai, meskipun di lubuk hati yang paling dalam.

ARTIKEL TERKAIT

Istimewa! Ksatria Samurai Wanita Benar-Benar Ada dan Nyata di Era Jepang Kuno! Berbicara soal samurai, mungkin kamu membayangkan sosok pria Jepang yang lengkap dengan perlengkapan perang serta pedang katana di pinggang. Memang, s...
Horo, Jubah ‘Ajaib’ yang Selamatkan Ksatria Samurai dari Serangan Panah Lawan Baju perang pasukan Jepang kuno memang sangat mencolok saat perang. Helm dengan ornamen khusus, lencana suku, hingga perlengkapan unik lainnya dikenak...
Pedang Samurai Khas Jepang Ini Indah Namun Mematikan! Jepang tidak hanya terkenal karena masyarakatnya yang teguh terhadap tradisi dan budayanya, tetapi juga karena senjata tradisional mereka yang sudah m...
LoadingSUDAH MENCOBA