Sebelas Tahun Lumpur Lapindo, Berikut 5 Fakta yang Perlu Kamu Ketahui

LoadingSUDAH MENCOBA

Masih ingat dengan salah satu bencana buatan terbesar yang mulai terjadi pada tanggal 29 Mei 2006? Iya, semburan lumpur panas dimulai ketika PT. Lapindo Brantas melakukan pengeboran di Dusun Balongnongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Semburan lumpur ini akhirnya meluas dan menggenangi 16 desa dan 3 kecamatan dengan tinggi 6 m. Sudah 11 tahun berlalu, apa saja yang terjadi berkaitan dengan bencana tersebut ya?

Volume lumpur semakin bertambah

Setahun semenjak lumpur panas mulai menyembur, berbagai upaya mulai dilakukan untuk menanggulangi bencana tersebut, salah satunya menggunakan teknik relief well. Sayangnya, penanggulangan ini batal dilakukan karena peralatan yang tidak tersedia dan kurangnya dana saat proses persiapan. Keadaan diperparah karena volume lumpur yang semakin bertambah. Di awal 2007 saja, volume lumpur Lapindo sudah mencapai 7 juta .

Peraturan Presiden (Perpres) yang menimbulkan masalah baru

Semburan lumpur yang disebabkan oleh aktivitas pengeboran PT Lapindo Brantas tentu saja merugikan banyak pihak, terutama warga sekitar yang terpaksa mengungsi karena rumah atau tempat bekerjanya digenangi oleh lumpur. Hal ini membuat Presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menetapkan PerPres No. 40 tahun 2009 (ditambah dengan PerPres No. 14 tahun 2007) yang mewajibakan PT. Lapindo Brantas memberikan ganti rugi kepada korban. Ganti rugi akan dibayar oleh perusahaan bagi warga yang wilayahnya masuk dalam Peta Area Berdampak (PAT). Sedangkan, wilayah diluar PAT akan diberi ganti rugi oleh pemerintah. Perpres tersebut kemudian menimbulkan masalah baru yang berakibat pada penelantaran dan perpecahan warga.

Kerugian akibat investasi yang ditarik

Bencana ini juga berakibat pada ditariknya investasi di wilayah Jawa Timur, khususnya di bidang pembangunan transportasi seperti jalan arteri baru atau jalur kereta. Hal ini terjadi karena para investor merasa harus menghadapi risiko yang besar jika investasi terus dilanjutkan. Kresnayana Yahya, seorang dosen Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), menyatakan bahwa per harinya Jawa Timur mengalami kerugian langsung sebesar 50 miliar rupiah dan kerugian tidak langsung sebesar 500 miliar rupiah.

Ada korban yang belum dapat ganti rugi

Meskipun lumpur Lapindo sudah 11 tahun terjadi, namun ternyata masih banyak korban yang belum mendapat ganti rugi. Dilansir dari Tempo, Humas Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), Khusnul Khuluk, mengatakan saat ini masih ada 84 berkas warga korban lumpur di dalam peta area terdampak (PAT) yang belum mendapatkan pelunasan ganti rugi. Totalnya mencapai nilai 54 miliar rupiah. Selain 84 berkas tadi, masih ada 19 berkas (bernilai 8.9 miliar rupiah) milik warga yang berada pada wilayah PAT yang juga belum dibayar sama sekali karena adanya masalah dalam berkas tersebut.

Muncul pulau baru bernama Pulau Sarinah

Tidak hanya melulu menimbulkan duka, bencana semburan lumpur juga menimbulkan keajaiban. Terletak di desa Telocor, muncul sebuah pulau baru bernama Pulau Sarinah yang terbentuk dari hasil sedimentasi lumpur. Keunikannya membuat Pulau Sarinah menjadi obyek wisata yang kerap dikunjungi oleh turis sekitar ataupun luar kota. Lokasi ini juga sering dijadikan tempat penelitian bagi para mahasiswa atau peneliti.

Selain masalah lingkungan, masalah kesejahteraan warga yang terkena dampak semburan lumpur Lapindo juga belum terselesaikan. Semoga seiring berjalannya waktu, semuanya segera selesai dan kembali menjadi indah seindah Pulau Sarinah ya!

ARTIKEL TERKAIT

Sering Dengar Berita tentang Reklamasi, Sudahkah Kamu Mengetahui Arti di Baliknya? Sekitar satu tahun lalu, pemberitaan mengenai reklamasi pantai ramai diperbincangkan oleh masyarakat dan juga media. Hal ini semakin memanas ketika KP...
LoadingSUDAH MENCOBA